Simbologi : P Coret
Saat jam istirahat siang tadi, Rines (nama disamarkan – pen), seorang sahabat dari masa lalu ber-silaturahim. Jauh jauh datang dari kawasan Karesidenan Bondowoso menuju pabrik tempat saya bekerja dengan mengendarai motornya.
Rines ini dulunya teman saat masih di SD, rumahnya pas di depan pabrik gula yang sekarang sudah tidak dioperasikan lagi.
Bersama Rines, banyak kisah yang terekam – ada kisah tentang drakula yang gentayangan di sekitar lingkungan perumahan pabrik gula, ada juga kisah tentang sabut kelapa untuk prakarya, juga ada kisah tentang barter bedil kayu dengan mangga dan banyak lainnya (next edition!)
Bersama Rines, banyak kisah yang terekam – ada kisah tentang drakula yang gentayangan di sekitar lingkungan perumahan pabrik gula, ada juga kisah tentang sabut kelapa untuk prakarya, juga ada kisah tentang barter bedil kayu dengan mangga dan banyak lainnya (next edition!)
Siang itu banyak cerita silih berganti mengalir, dari pendengar menjadi pe-cerita ataupun sebaliknya dan semua berseling tawa-tawa riang. Kedatangan Rines selain untuk mengunjungi sahabat lama, juga akan menghadiri upacara pernikahan saudara sepupunya yang tinggal di kawasan Ampel.
Sore, setelah jam shift, bersama Rines – menuju Ampel, aku sekalian pulang ke rumah, saat perjalanan melewati samping Royal Plaza, Rines menanyakan tentang adanya keramaian yang ada sekira 45 meter sebelum traffic light.
“Oooo, itu orang-orang yang mau beli siomay Nes”, jawabku ringan.
“Enak ta?”, tanya Rines.
“Lha kamu mau ta?” balas kutanyakan kepadanya.
Sesaat terbit rasa jahilku ingin menggodanya.
“Baiknya jangan deh Nes, kamu ndak lihat ta, itu kan ada tanda P Coret?” ujarku.
“Emang kenapa, kok ndak boleh?”, tanya Rines heran.
“Lha plat motormu, itu kan P-nya dicoret?”
(disclosure : nama disamarkan, dan bila ada kesamaan nama dan lokasi merupakan kebetulan semata)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar